Tugas Ilmu Sosial Dasar


JAKARTA, KOMPAS.com - Penurunan jumlah penduduk miskin yang tercermin dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dinilai tidak jadi jaminan pengentasan kemiskinan secara berkelanjutan.
Meski jumlah penduduk miskin turun, kualitas hidup dan ketergantungan terhadap berbagai bantuan-bantuan dari pemerintah dianggap masih terlalu tinggi sehingga masyarakat belum mandiri atau lepas dari kemiskinan absolut.
BPS mencatat, per Maret 2018, persentase penduduk miskin turun jadi 9,82 persen atau setara dengan 25,95 juta orang. Ini pertama kalinya persentase penduduk miskin di Indonesia pada level single digit.
"Ibarat orang miskin dapat harta karun, kan enggak jadi miskin. Tapi, kualitas hidupnya sama saja. Analoginya seperti itu," kata peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus saat dihubungi Kompas.com, Kamis (19/7/2018).
Ahmad merinci, sejumlah faktor yang berkontribusi pada penurunan jumlah penduduk miskin di antaranya ketepatan waktu penyaluran bantuan sosial tunai serta program bantuan lain, seperti beras sejahtera atau rastra serta Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
Ditambah dengan periode survei kemiskinan dilakukan, yakni September 2017 sampai Maret 2018 yang tidak bertepatan dengan bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri.
Jika ke depannya berbagai program tersebut tidak lagi berlanjut, kemungkinan besar kelompok yang kini ada di atas garis kemiskinan, bisa kembali turun atau jadi di bawah garis kemiskinan. Sehingga, capaian penurunan jumlah penduduk miskin terakhir bukan karena kemampuan untuk bisa lebih produktif, melainkan karena suntikan yang sifatnya sesaat.
 "Belum ada perbaikan kualitas kayak produktivitasnya, kinerja, output, kualitas pendidikannya belum berubah. Ketika harta karunnya habis, jadi miskin lagi," tutur Ahmad.
Adapun cara untuk menurunkan penduduk miskin serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat dinilai Ahmad sudah dilakukan pemerintah. Meski begitu, Ahmad mengingatkan agar pemerintah jangan cepat berpuas diri dan terus melakukan peningkatan standar dari program yang diadakan.

z         OPINI

Dengan menurunnya tingkat kemiskinan di Indonesia tentunya saya merasa senang dan bangga, tetapi ternyata kualitas hidupnya tidak.
Kualitas hidup itu antara lain terdiri dari jaminan pemenuhan kebutuhan dan pelayanan dasar, penanggulangan kemiskinan, dan perlindungan anak, perempuan, serta kaum marjinal . Peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia merupakan salah satu tujuan yang hendak dicapai dalam pelaksanaan program pembangunan. Kualitas hidup yang mencakup semua aspek kehidupan yang berhubungan dengan kemakmuran dan kesejahteraan manusia. Bukan hanya untuk golongan tertentu saja, tetapi kemakmuran dan kesejahteraan untuk semua golongan.

z         SOLUSI

1.       Peningkatan Kesehatan Bagi Masyarakat

Tingkat kesehatan manusia dipengaruhi oleh faktor berikut:
a. Fasilitas kesehatan termasuk tenaga medis dan fasilitas sosial lainnya.
b. Tingkat kesadaran penduduknya akan pentingnya kesehatan seperti lingkungan yang sehat dan makanan yang bergizi.

2.       Pendidikan

Tingkat pendidikan masyarakat berdampak pada kualitas atau kesejahteraan hidupnya. Penduduk yang berpendidikan tingi memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan profesi dengan penghasilan lebih layak, lebih memahami arti kesehatan dan lebih matang dalam kesehatan mental psikologi. Dengan demikian pendidikan merupakan aset hidup manusia dan penting untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

3.       Profesi dan Pendapatan

Tingkat pendidikan sangat berkorelasi dengan kualitas tenaga kerja. Tenaga kerja yang berpendidikan dan memiliki skill mumpuni akan mendapatkan posisi yang bagus di lingkungan kerjanya. Penduduk yang memiliki jenjang pendidikan tinggi lebih berkesempatan lebih besar untuk memilih pekerjaan yang baik dibanding penduduk yang tidak memiliki pendidikan tinggi. Memang ada para pengusaha yang berhasil hanya dengan bermodal ijash SMA/SMP bahkan SD sekalipun. Namun tentunya di era globalisasi saat ini, pendidikan yang baik menjadi modal utama dalam berbisnis, tidak seperti zaman dahulu. Pendidikan tinggi identik dengan penghasilan yang tinggi pula.



Referensi:


Comments